MIRIS! Ma Ijah 65 Tahun Hidup Sebatang Kara di Rumah Reyot 3x4 di Jatigede Sumedang, Makan Andalkan Belas Kasih Tetangga
MangsiJabar - *SUMEDANG -* Di balik gencarnya pembangunan di Kabupaten Sumedang, potret pilu masih menyelimuti warga lanjut usia. Adalah *Ma Ijah (65),* warga yang hidup sebatang kara di sebuah rumah panggung reyot berukuran 3 x 4 meter di *Dusun Cilimus RT 11 RW 05, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.*
Kondisi hunian Ma Ijah jauh dari kata layak. Hasil pemantauan Tim Aksi Kemanusiaan *Forum Media Sumedang Timur (FMST)* di lapangan menunjukkan, rumah tersebut tanpa pintu, lantai dari pelupuh bambu sudah berlubang di beberapa titik, tanpa kursi, tanpa tempat tidur layak, tanpa dapur, dan tanpa kamar mandi.
Ma Ijah hanya beralaskan tikar tipis dengan bantal lusuh untuk beristirahat di usia senjanya.
*Makan Sehari-hari Andalkan Tetangga*
Untuk bertahan hidup, Ma Ijah yang hidup tanpa pendamping keluarga harus mengandalkan belas kasihan dan kepedulian tetangga sekitar untuk kebutuhan makan sehari-hari.
"Kalau melihat kondisi Ma Ijah, kami sebagai tetangga tentu merasa kasihan. Beliau tinggal sendirian dan untuk makan sehari-hari terkadang mengandalkan bantuan warga. Kami membantu sebisa mungkin," ujar salah satu tetangga Ma Ijah.
Di usia 65 tahun, saat seharusnya menikmati masa tua dengan tenang, Ma Ijah justru harus berjuang setiap hari di tengah hunian yang mengancam keselamatannya sendiri.
*Sudah Diusulkan Bantuan, Belum Terealisasi*
Ketua RW setempat menyebut bahwa nama Ma Ijah sebenarnya sudah diusulkan untuk mendapatkan bantuan, baik bantuan sosial maupun bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu). Namun hingga kini, bantuan tersebut belum terealisasi.
Pihak RW berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Desa Mekarasih, Pemerintah Kecamatan Jatigede, serta Dinas Sosial Kabupaten Sumedang agar Ma Ijah bisa segera mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
*FMST: Ini Soal Kemanusiaan, Jangan Hanya Didata*
Tim Aksi Kemanusiaan FMST melalui Sekjen FMST, *M. A. Rahmat Setiawan,* mengaku miris melihat langsung kondisi Ma Ijah.
"Terus terang, kami nyaris tidak kuasa menahan air mata melihat langsung kondisi Ma Ijah. Di usia 65 tahun, beliau harus hidup sendirian di rumah yang sangat memprihatinkan. Untuk makan sehari-hari saja mengandalkan belas kasihan tetangga. Ini bukan hanya persoalan rumah rusak, tetapi persoalan kemanusiaan yang perlu segera mendapat perhatian," ujar Rahmat.
FMST mendorong Pemerintah Desa Mekarasih segera melakukan verifikasi ulang dan updating data DTKS, serta berkoordinasi dengan Dinsos dan Disperkim Kabupaten Sumedang untuk penanganan konkret. Tidak hanya perbaikan rumah, tetapi juga pemenuhan kebutuhan pangan, kasur layak, sanitasi, dan pendampingan sosial lansia.
Kisah Ma Ijah menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi dari bagaimana negara hadir untuk warga paling rentan.
Hingga berita ini ditayangkan, media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Pemerintah Desa Mekarasih dan Dinas terkait mengenai status bantuan Ma Ijah.
H. Deden S
Posting Komentar